" Ini wadah gasan bubuhan kula, amang, julak, ading-ading nang bungas wan langkar. Amun marasa urang Banjar, ayuha umpat babuat disini, lumayan kita maingatakan kisah padatuan bahari sambil balolocoan wan bakukurihingan gasan mahilangakan satres narai "

Minggu, 16 Januari 2011

Kisah datu sanggul ( tatakan rantau )

Konon Datu Sanggul, yang nama aslinya Abdus Samad,dari Palembang datang kedaerah Tatakan, Rantau dengan tujuan untuk memperdalam Ilmu agama kepada Datu Suban. Maksud datu Sanggul itu diterima Datu Suban dengan senang hati. Sejak itu Datu Sanggul terus belajar dengan rajin bersama murid-murid lainnya. Karena kerajinan, kecerdasam dan ketaatannya beliau kepada guru, Datu Suban pun berkenan memberikan seauah kitab yg dikenal dengan sebutan Kitab BARENCONG. Berkat mengamalkan ilmu yg di peroleh baik lewat guru maupun lewat membaca Kitab Barencong, Oleh Allah beliau di beri kesaktian atau keramat, yaitu dapat shalat setiap Jum'at di Masjidil Haram,Makkah. Karena itu pula, oleh masyarakat beliau di cap sebagai orang yg melanggar syariat karena beliau tidak pernah terlihat shalat Jum'at di Masjid Tatakan. Pernah suatu hari, hari Jum'at, seseorang datang ke rumah beliau untuk mengajak shalat Jum'at bersama beliau di masjid Tatakan. Mulanya beliau menolak tetapi karna dipaksa beliaupun berangkat ke masjid bersama orang itu.Tetapi anehnya, menurut penglihatan orang yg mengajak beliau itu hanya beberapa orang yg shalat di masjid itu berbentuk manusia, yg lainnya berbentuk hewan semua. Seusai shalat jum'at orang itu menanyakan prihal yg dilihatnya barusan Kepada Datu Sanggul. Kata Datu Sanggul, mereka pergi ke masjid bukan karna Allah, bukan karna untuk beribadat tetapi karena adat.

Kejadian lain, ketika beliau pergi ke masjid Muning, tepat jam dua belas, beliau terus melompat kedalam sungai sehingga orang yg ada disekitar masjid itu kaget dan berteriak, mengapa melompat kedalam sungai. Ketika semua orang panik, timbullah Datu Sanggul kepermukaan sungai dan langsung naik ke mesjid, anehnya hanya anggota wudhu yg basah, yg lainnya seperti baju, laung, sarung dan sajadah beliau tidak basah. Ketika orang-orang mengangkat takbir memulai Shalat Fardhu jum'at, beliau hanya berpantun :

RIAU-RIAU PADANG SI BUNDAN

DISANA PADANG SITAMU-TAMU

RINDU DENDAM TENGADAH BULAN

DI HADAPAN ALLAH KITA BERTEMU " ALLAHU AKBAR"

Setelah mengatakan ALLAHU AKBAR Tubuh beliau berada diawang-awang hingga selesai orang mengerjakan shalat jum'at. Melihat keadaan Datu Sanggul yang demikian, orang-orang yang berada di mesjid menjadi heran, saat orang-orang menjadi keheranan, Datu Sanggul lalu menginjakkan kakinya di lantai. "Aku tadi shalat di Makkah, kebetulan di sana ada selamatan dan aku meminta sedikit, mari kita cicipi bersama walau sedikit" kata Datu Sanggul disaat orang-orang masih keheranan.

Maka orang-orang yang berada dimasjid pun ramai-ramai mencicipi nasi yang di bawa Datu Sanggul Dari Makkah itu. Sejak kejadian itu orang-orang tidak berani lagi mengatakan ini dan itu kepada beliau. Sedangkan Datu Sanggul tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya, jarang bergaul dan setiap Jum'at shalat ke Masjidil Haram, Makkah. Karena seringnya shalat Jum'at di Masjidil Haram,Makkah, maka beliau pun dapat berkenalan dengan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang sedang menuntut ilmu di Tanah suci Makkah. Dari perkenalan itu membuahkan persahabatan. Datu Sanggul Selalu membawakan oleh-oleh dari tanh air seperti cempedak, konon cempedak yang diberikan kepada Muhammad Arsyad masih bergetah, sebagai tanda baru saja dipetik dan sebagai tanda bahwa perjalanan Datu Sanggul dari Tatakan ke Makkah hanya sebentar. " Guru, apakah durian yang ada didalam istana itu sudah berubah??? "kata Muhammad Arsyad pada satu hari kepada Datu Sanggul. " Sudah, dua biji buahnya, nanti aku ambilkan" sahut Datu Sanggul. Pada Jum'at berikutnya sebelum berangkat ke Makkah, Datu Sanggul singgah sebentar di istana memetik buah durian satu biji tanpa sepengetahuan penjaganya. Setelah sampai di Makkah durian itu diberikan kepada Muhammad Arsyad. Sebagai bukti keduanya bersahabat, kitab Datu Sanggul hasil berguru dari Datu Suban, dipotong dua secara rencong, kitab tersebut dipotong Datu Sanggul dengan kuku jari beliau, setelah Muhammad Arsyad gagal memotongnya dengan menggunakan mandau. Hasil potongan itu, satu diberikan kepada Muhammad Arsyad dan yang satunya disimpan oleh Datu Sanggul.

Setelah Muhammad Arsyad selesai menuntut ilmu, beliau pulang ke tanah Banjar. Beliau ingin menemui sahabat sekaligus gurunya di Tatakan, tetapi sayang, setelah sampai di Tatakan Datu Sanggul sudah berpulang ke Rahmatullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar